Senin, 07 Desember 2009

Hari yang Indah bagi Anak Yatim

Tak pelak hari itu keceriaan tulus menghiasi bibirnya. Ya, di hari itu pula mereka begitu gembira lain seperti hari-hari biasanya. Idhul qurban (baca; idhul adha, red), adalah hari raya ummat Islam sebagai bentuk rasa syukur kita dan dalam rangka melaksanakan ibadah kepada Allah swt, sebagaimana yang telah disampaikan melalui Nabi Ibrahim as., dan juga anaknya Ismail as., dalam hal berqurban, semoga Allah swt. meridhoi keduanya. Amin.

Hari itu beda dari hari-hari sebelumnya. Sungguh, begitu riangnya wajah mereka penuh dengan keceriaan campur bahagia. Hari raya Qurban, adalah moment terpenting bagi ummat Islam saat di mana kita bisa untuk saling berbagi dengan saudara-saudara kita yang kurang mampu, seperti yatim misalnya. Mereka yang kini hidup tanpa seorang ayah cukup sulit untuk mendapatkan makanan yang enak, mungkin hanya setahun sekali mereka mendapatkan daging seperti ini. bisa jadi karena sang ibu tidak bisa mencukupi kebutuhan sang anak dengan baik. Sebuah anugerah bagi kami dari Allah swt, teman-teman KAMMI Daerah Jember bisa berbagi dengan mereka. Kegiatan yang dimotori oleh bidang Sosmasy (Sosial Masyarakat) KAMMDA Jember ini dapat memberikan makna bagi kita semua, walaupun sebenarnya hari itu hari libur yang biasanya kebanyakan para mahasiswa mudik/ pulang kampung tapi masih ada dan bisa menyempatkan waktunya dari teman-teman KAMMI untuk saling berbagi dengan anak-anak yatim yang ada di desa Kasengan Kecamatan Kalisat itu.

Kebahagiaan kami tiada terkira melihat mereka tersenyum riang gembira. Kami berharap kegiatan ini bisa sedikit membantu/ meringankan beban hidup mereka yang kini menjadi seorang yatim. Walau tidak banyak daging qurban yang mereka terima, kami begitu merasakan kesenangan di wajah mereka. Syukur Alhamdulillah kami bisa bercanda ria dengan mereka, sejenak sambil menghilangkan kepenatan aktivitas kami di kampus ataupun kerja (maklum, ada yang ngampus sambil kerja J). Segala puji hanyalah bagi Allah.

Maka dari itu, kami ucapkan jazakumullah khairan katsir kepada semua pihak yang telah terlibat hingga terlaksananya kegiatan ini. Semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik. Amin.

Selamat Idhul Qurban 1430 H. Tingkatkan pengorbanan, suburkan keikhlasan. Bersama Mengingati Arti Pengorbanan Nabi Ibrahim as, dan Ismail as. [frz]

Minggu, 01 November 2009

MENENGOK PERANAN PEMUDA MENUJU PERUBAHAN

29 Oktober 2009



Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”

(QS Ali Imran : 104).

Pemuda merupakan bagian tak terpisahkan dari rakyat. Dari tangan para pemuda inilah nasib bangsa dan Negara dipertaruhkan. Dalam perjalananya para pemuda yang dipelopori oleh mahasiswa mencoba untuk terus memperjuangkan kepentingan rakyat walaupun di satu sisi akan berbenturan dengan berbagai kepentingan rezim. Akan tetapi inilah hal yang membuktikan bahwa mahasiswa/pemuda merupakan iron stock yang akan membawa perubahan ke depan.

Ada fakta menarik bila kita sedikit flash back sejarah pergerakan mahasiswa dari rezim orba-reormasi:

1965

Demonstrasi terjadi di mana-mana sebagai reaksi ketidakpuasan mahasiswa akibat kebijakan pemerintah saat itu yang mengakibatkan ketimpangan social semakin terlihat. Kesenjangan ekonomi semakin tampak yang mengakibatkan kesengsaraan rakyat semakin menjadi. Reaksi ini mengkibatkan rakyat dan mahasiswa mengeluarkan TRITURA:

1. Turunkan harga

2. Rombak Kabinet dwikora

3. Bubarkan PKI

1974

Terjadi peristiwa MALARI . ratusan mahasiswa ditangkap karena dituduh berbuat makar. Peristiwa ini terjadi akibat pasar Indonesia dikuasai jepang hal ini jelas merugikan rakyat dan eksistensi Negara sendiri.

1978

Lahirnya NKK/BKK, yang menuntut mahasiswa untuk study oriented. Dema (dewan mahasiswa) dibubarkan, organisasi ekstra kampus dilarang beraktivitas di dalam kampus. Hal ini menyebabkan sempitnya ruang gerak dan berpikir mahasiswa. NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) adalah upaya untuk menjaga kehidupan kampus agar tetap beorientasi akademis. BKK (Badan Koordinasi Kampus) adalah upaya penyempitan ruang gerak mahasiswa melalui pengawasan yang ketat dari rektorat.

1980an

Untuk menekan pengaruh Islam, pemerintah memberlakukan asas tunggal (PANCASILA). Azas Pancasila terus didoktrinkan dalam kehidupan kampus. Hal ini juga menyebabkan HMI pecah menjadi HMI DPO dan HMI MPO.

1998

Badai krisis ekonomi menghantam Indonesia, kondisi ini semakin parah dengan adanya KKN para elite politik. Tuntutan agar Ssoeharto mundur terjadi dimana-mana, tragedi trisakti puncaknya. Mahasiswa dan rakyat berhasil menduduki gedung MPR/DPR. Rezim orba berakhir setelah pada tanggal 21 Mei 1998 menyatakan mengundurkan diri sebagai Presiden RI.

Era Reformasi

Pada era Presiden Habibie banyak ketidakpuasan yang disinyalir Habibie merupakan produk orba. Pada saat era Gus Dur juga diwarnai aksi akibat kasus bullogaite, nepotisme,dll yang berujung pemberhentian Gusdur sebagai presiden pada waktu itu. Pada era Megawati juga banyak demonstrasi Mahasiswa di berbagai daerah. Mahasiswa dan rakyat tidak puas dengan rezim waktu itu yang telah menjual aset nasional, korupsi sukhoi, dll. Ketika tampuk kepemimpinan beralih k SBY, juga tidak luput dari sorotan mahasiswa terhadap kinerja. Kebijakan menaikan harga BBM dan kedatangan bush menjadi isu paling dominan seputar demonstrasi mahasiswa. Pemerintah juga dinilai plin-plan terkait kebijakan menaikkan harga BBM. Pemerintah juga dinilai melukai rakyat dengan memanfaatkan momentum pemilu 2009 sebagai ajang untuk meraup suara dengan menaikkan gaji guru yang dinilai syarat unsur politis.

Fakta menarik yang bisa kita simpulkan dari kejadian di atas yaitu bahwa pemuda yang dipelopori oleh mahasiswa dari rezim orde lama-orde reformasi ini senantiasa terus bergerak mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah melalui mimbar bebas,demonstrasi, diskusi publik, dll. Hal ini terus dilakukan oleh mahasiswa sebagai iron stock bangsa untuk membela kepentingan rakyat.

Momentum bagi pemuda sebetulnya sudah di mulai sejak zaman Rasulullah SAW. Bagaimana ketika itu beliau menjadi contoh riil semangat pemuda yang berhasil menyebarkan Islam sampai ke penjuru dunia. Umar bin Khattab mengatakan “setiap aku mempunyai masalah maka yang kucari adalah pemuda”.

Bila kita menengok di negara kita, Soekarno pernah mengatakan “berilah aku seorang pemuda maka aku akan mengguncang dunia”. Hal ini juga teraktualisasi dalam sumpah pemuda pada tahun 1928 sebagai pelopor persatuan nasional. Pada 1945 juga peran pemuda sebagai pelopor proklamasi kemerdekaanRI. Berujung pada 1998 juga peran serta pemuda yang berhasil menumbangkan rezim orba yang bertahan selama 32 tahun.

“”yaa ayyuhassabab inna fi yadikum amrol ummah wa fii aqdamikum hayaataha”

(wahai pemuda sesungguhnya di tanganmu urusan bangsa dan di derap langkahmu tertumpu hidup dan matinya suatu bangsa).

Pemuda selama bertahun-tahun bahkan berabad-abad menjadi corong kebangkitan suatu bangsa..bagaimanakah dengan sekarang?? Bila kita melihat bagaimana efek dari sumpah pemuda yang telah mengikat seluruh pemuda di tanah air untuk bersatu melawan imperialisme, pragmatisme, hedonisme, ini menjadi suatu titik tolak kebangkitan bangsa pada saat itu.

Siapapun yang memimpin bangsa ini, kepentingan rakyat tetap harus diperjuangkan. Islam telah mengajarkan bahwa apabila suatu urusan tidak diserahkan kepada ahlinya tunggulah saat kehancuran. Di era reformasi ini seharusnya menjadi momentum bagi pemuda sebagai nahkoda masa depan bangsa. Akan tetapi bila kita lihat di era reformasi inipun, praktis peninggalan orde barulah yang sampai sekarang sebagai nahkoda masa depan bangsa. Ini tentunya kontras dengan spirit dan idealisme para pemuda yang berjuang tak kenal lelah.

Momentum tentunya masih ada dan akan terus berlanjut beriringan dengan spirit pemuda itu sendiri. Kedepan diharapkan akan muncul sosok-sosok pemuda yang memiliki jiwa negarawan. Pemuda muslim tentunya akan menjadi icon besar dalam peranannya mengawal agenda-agenda reformasi. Pribadi Muslim Negarawan diharapkan akan senantiasa menghiasi pemuda-pemuda muslim bangsa ini sebagai umat mayoritas di Tanah Air ini yang ke depan diharapkan mampu membawa perubahan positif bagi bangsa dan negara ini. Pribadi Muslim Negarawan tidak hanya sebagai pejabat politik, tetapi juga berani menolak setiap bentuk intervensi asing dan berbuat untuk kepentingan rakyat yang dilandasi dengan nilai-nilai Islam.

Bila kita perhatikan selama ini kebanyakan peranan pemuda hanya sebatas sebagai “yudikatif (pengawas)” kebijakan-kebijakan pemerintah. Sang “eksekutif (eksekutor)” adalah pemerintah yang rata-rata dihuni pejabat tua. Hal ini seringkali terjadi benturan ditataran lapangan diakibatkan perbedaan paradigma antara golongan tua dan muda. Sejarah di Republik ini mencatat pemuda/mahasiswa selalu berada di garda depan membela kepentingan rakyat.

Solusi alternatif kedepan diharapkan terjadinya keseimbangan antara golongan tua dengan golongan muda ditataran legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Artinya ke depan perumus kebijakan, pelaksana kebijakan, dan pengawas kebijakan merupakan kolaborasi yang seimbang antara kaum senior dengan pemuda. Solusi ini diharapkan akan membawa bangsa dan negara ini menuju bangsa dan negara yang adil dan bermartabat. Wallahua’lam



By Firdian Tri Cahyo
KADEP. KP KAMDA JEMBER

Senin, 11 Mei 2009

TRANSFORMASI KONSEP ARKANUL BAI’AH DALAM AMAL SIYASI KAMMI

“Sesungguhnya seorang muslim tidak sempurna keislamannya kecuali jika ia bertindak sebagai politisi. Pandangannya jauh ke depan terhadap persoalan umatnya, memperhatikan dan menginginkan kebaikannya. Meskipun demikian, dapat juga saya katakan bahwa pernyataan ini tidak dinyatakan oleh Islam. Setiap organisasi Islam hendaknya menyatakan dalam program-programnya bahwa ia memberi perhatian kepada persoalan politik ummatnya. Jika tidak demikian, maka ia sendiri yang sesungguhnya butuh untuk memahami makna Islam.”(Hasan Al Banna)
Suatu catatan penting dari Imam Hasan Al-Banna adalah peringatannya tentang adanya pemahaman yang sempit bahwa jika disebut dengan politik maka orang-orang akan segera membayangkan sebuah partai politik. Politik yang dimaksudkannya bukanlah sekadar sebuah partai politik, tetapi keseluruhan aktivitas dakwah yang dilakukan untuk mengurusi nasib umat hingga mengangkat mereka ke kedudukan sebagaimana yang diperintahkan Al-Quran di tengah-tengah manusia.

Korelasi Amal Siyasi dengan Arkanul Bai’ah dalam Realitas Perpolitikan KAMMI
Amal siyasi sebagai bagian penting dari keseluruhan amal Islami harus mendapat perhatian serius dari para aktivis dakwah dan bai’at mereka kepada jalan dakwah adalah bai’at mereka pula kepada amal siyasi. Dakwah Islam tidak menyerukan sikap memisahkan diri dari persoalan-persoalan kemasyarakatan yang ada dalam tubuh umat Islam. Jika pun terdapat upaya-upaya memilah lingkungan kehidupan para aktivis dakwah dari masyarakat umum, maka tujuannya bukan untuk lari dari masyarakat yang menjadi tanggungjawab dakwahnya. Tetapi, hal itu dilakukan hanya untuk konsolidasi internal mereka agar memiliki kekuatan yang lebih besar dalam memecahkan persoalan-persoalan masyarakat tersebut. Atau, agar mereka tidak tergelincir karena tarikan-tarikan dasyhat kemaksiatan sehingga ia akhirnya justru menjadi bagian dari persoalan tersebut.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya adalah neraka jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Q.S. 8/Al-Anfaal: 16).
Kefahaman tentang amal siyasi yang dikembangkan pada saat ini boleh jadi berbeda dengan sebelumnya karena perbedaan-perbedaan situasi dan kondisi yang menyertainya. Pandangan Imam Hasan Al-Banna tentang sistem kepartaian yang menyebabkan beliau tidak mendirikan partai politik, tetapi membolehkan kesertaan dalam pemilihan umum telah diposisikan secara aktual dalam beberapa kurun terakhir. Partai-partai politik dalam berbagai bentuknya telah berdiri dan diusung oleh para aktivis dakwah di berbagai negara dalam rangka amal siyasi mereka berdasarkan syuro-syuro yang mereka lakukan. Amal siyasi yang dilakukan bukanlah sekadar untuk meraih kekuasaan dan mencapai kedudukan-kedudukan tinggi dalam pemerintahan, tetapi semata-mata ditujukan bagi penegakkan hukum-hukum Allah SWT di dalam masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keadilan yang telah digariskan-Nya. Inilah rukun ikhlas yang akan menjauhkan aktivis dakwah dari perangkap kediktaktoran, korupsi, dan kesombongan tatkala meraih suatu kedudukan dalam kekuasaan.
Setiap aktivis menyadari sungguh-sungguh dengan kefahamannya dan keikhlasannya bahwa amal siyasi yang dilakukannya adalah bagian dari kerja besar dari tangga-tangga mihwar ta’sisi, mihwar tanzhimi, mihwar sya’bi, mihwar muasasi dan mihwar dauli. Dalam kaitan koalisi kerja teknis Imam Hasan Al-Banna menyatakan, “Tidaklah mengapa menggunakan orang-orang non-muslim –jika keadaan darurat- asalkan bukan untuk posisi jabatan strategis (dalam pemerintahan).” Kesungguhan dalam kerja siyasi adalah bagian dari ruhul jihad yang harus dilakukan. Kesungguhan itu akan terjadi jika aktivis dakwah menghargai dan mematuhi jalan dakwah yang telah digariskan berdasarkan syuro. Tidak boleh ada seorang pun yang bermalas-malasan dalam bidang ini hanya lantaran ia merasa bukan bidangnya atau tidak sependapat dengan hasil-hasil syuro. Apapun yang disumbangkan dalam amal siyasi, mulai dari harta sampai dengan jiwa, adalah bagian dari ruhul tadhiyah (jiwa pengorbanan) di jalan dakwah. Tidak ada istilah mati sia-sia dalam suatu amal siyasi karena seluruh pengorbanannya harus diyakini akan dihisab oleh Allah SWT dengan timbangan kebaikan dakwah.
Kelima Bai’ah tersebut jika dikorelasikan dengan realitas perpolitikan KAMMI, saya kategorikan sebagai mobilitas internal organisasi dan lima bai’ah selanjutnya (at tho’at, tsabat, tajarud, ukhuwah, dan tsiqoh) saya kategorikan sebagai mobilitas eksternal organisasi. Sebagaimana peran dari Arkanul Bai’ah adalah sebagai pemicu, pemacu, dan pemecut bagi akselerasi gerakan dakwah itu sendiri agar arkanul bai’ah itu dapat mempercepat tercapainya ahdafu da’wah (sasaran-sasaran dakwah) dan ghayatu da’wah (tujuan-tujuan dakwah) sehingga peningkatan kualitas dan kapasitas interaksi dengan arkanul bai’ah haruslah mendahului ekspansi dakwah yang dilakukan.
Mari kita analisa lebih jauh mengenai kelima bai’ah tersebut (al fahm, ikhlas, amal, jihad, dan at tadhiyah) dalam realitas perpolitikan KAMMI. Fenomena maraknya aktivis/ politisi yang keluar rel dakwah organisasi menjadi sesuatu yang kian biasa, bahkan tanpa kontrol keras dari institusi struktur yang lebih tinggi sekalipun. Kita ambil kasus dari beragam daerah di Indonesia. Hipotesa saya bahwa semakin metropolitan sebuah daerah/kota maka sense of belonging aktivis terhadap wajihahnya semakin besar. Dan sebaliknya, semakin kecil/kurang metropolitan sebuah kota/daerah maka semakin rendah sense of belonging aktivisnya terhadap wajihahnya. Dengan kata lain, semakin kota sebuah daerah maka semakin tinggi loyalitas aktivisnya dan sebaliknya semakin ‘desa’/jauh dari makna kota sebuah daerah maka semakin rendah loyalitas aktivisnya. Benar ga?
Di daerah yang jauh dari makna kota (‘desa’), dakwah apapun modusnya dinilai sama. Baik dakwah KAMMI, kampus, sekolah, maupun masyarakat. Terlepas dakwah secara partai ataupun independent. Sehingga dengan fenomena demikian secara tidak langsung mencetak aktivisnya menjadi pribadi yang kurang memiliki kesetiaan dalam satu wajihah. Distorsi pemahaman mengenai platform masing masing wajihah kian marak. Artinya, dengan alasan ‘banyak amanah’ sehingga aktivis tidak mempelajari platform wajihah yang digelutinya. Dan sangat wajar jika mereka lantas tidak memiliki rasa kepemilikan terhadap wajihahnya yang tanpa disadari pula mempengaruhi inovasi-inovasi dakwah yang selayaknya dilakukan terhadap wajihah yang digelutinya.
Terlebih dalam ranah politik yang merupakan ranah akhir setelah aktivis melewati kematangan dalam ranah tarbawi dan ijtima’i tentunya. Hipotesa turunan dari hal ini adalah ‘aktivis di daerah kota tidak perlu diajari bagaimana berpolitik, membaca realitas yang ada mereka sudah cukup cerdas dalam bersikap. Begitu sebaliknya, aktivis di daerah yang jauh dari makna kota (‘desa’) menjadi perlu diberi pembinaan intens mengenai bagaimana berpolitik yang mungkin realitas di daerahnya tampak aman sehingga hormone adrenalin aktivis yang tinggal di daerah yang jauh dari makna kota kurang bekerja optimal dibandingkan dengan aktivis yang tinggal di daerah kota. Hipotesa tersebut merupakan eksperimentasi dari tangga mihwar-mihwar dakwah.
Lantas bagaimana realitas loyalitas aktivis di daerah yang semakin metropolitan? Berdasarkan hipotesa diatas bahwa mereka memiliki loyalitas yang tinggi sampai-sampai menjadikan wajihah ini sebagai bagian dari hidupnya. Dan tanpa disadari mereka menjual KAMMI yang sebagian keuntungannya menjadi pemasukan pribadi mereka. Wajihah ini dijadikan sebagai ladang bisnis dengan membagi-bagikan proyek negara/swasta yang tanpa disadari menjadi sarana tutup mulut singa-singa reformis yang teriakan dulunya terdengar keras. Pembungkaman seruan-seruan kebaikan menjadi hal yang mulai luntur. Dan dimana mereka sekarang sang singa reformis,oh.. ternyata sudah takluk dimakan proyek2 itu. Distorsi pemahaman pula mengenai makna Muslim Negarawan. Mereka berdialektika ‘diam’nya mereka sebagai wujud kematangan dalam sikap politik yang dilakukannya. Padahal tidak sama sekali. Istilah ‘Broker politik’, politisi KAMMI di suatu daerah yang menggemakan seruan “GOLPUT” untuk KAMMI Daerahnya terhadap pemilu beberapa waktu yang lalu menjadi realitas bobroknya pembinaan mereka akan politik islam yang seharusnya digemakan.
Jadi, akar permasalahan dari realitas perpolitikan dalam tubuh KAMMI dengan transformasi Arkanul Bai’ah adalah REVITALISASI RUHUL SIYASAH ISLAM DALAM INTERNALISASI GERAKAN MENUJU KEMANDIRIAN DAN KEMATANGAN BERPOLITIK. Bagaimana kira-kira caranya, kita tunggu episode kedua.
Inilah Pe Er terbesar kita sesungguhnya.
Demi KAMMI Tercinta,

Arifah Yusti Kencana
Staf Dept. Kastrat KAMDA Jember

Sabtu, 02 Mei 2009

PERINGATAN DARI IMAM SYAHID HASAN AL BANNA

Suatu hal yang harus kita ingat adalah bahwa Islam tersebar hingga ke India bukan memalaui ulama, namun melalui para pedagang yang menampilkan dirinya sebagai seorang muslim yang patut diteladani karena terpercaya dan jujur.
Dakwah apapun, terlepas dari benar atau tidaknya pemahaman yang ia bawa maka janganlah kamu melihat awalnya ketika dia tidak memiliki apa apa. Lihatlah setelah mereka menang dan memiliki segala fasilitas dunia, niscaya akan kamu dapati kebanyakan dari mereka melakukan penyelewengan yang mulai muncul. Tahukah kita sesungguhnya apa yang ia dakwahkan adalah ketika mereka belum memiliki apa apa. Adapun setelah dunia terkuasai, maka terbukalah bagi mereka pintu syahwat keduniaan dan memperturutkan hawa nafsu semisal melupakan amanah (jabatan) yang kecil menuju jabatan yang dianggap lebih besar, itulah yang kemudian merusak dan mengotori prinsip mereka sendiri.
Hal ini telah menimpa semua ideology yang tersebar di berbagai belahan dunia. Ketika munculnya revolusi, maka yang mereka inginkan pada awalnya adalah perbaikan, mengganti system yang rusak dengan system yang mereka yakini kebenarannya. Namun setelah beberapa masa terdapatlah beberapa tuduhan yang tertuju kepadanya. Sehingga akan terjadi revolusi berikutnya. Mengapa ini bisa terjadi? Tidak lain karena yang mereka inginkan sebatas dunia yakni kekuasaan dan tumpuk pemerintahan, bukan untuk perbaikan, bukan pula untuk menegakkan hukum Allah.
Hendaknya semua sadar akan bahaya yang hanya mengandalakan untaian kata kata, yang secara lahiriah tampak sebagai rahmat tetapi pada hakekatnya didalamya terkandung azab. Benarlah Allah berfirman :
“ sesungguhnya orang orang yang memecah belah agama mereka dan mereka terpecah menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka…”(Al-An’am : 159)
Semoga Allah meridhai Imam Syahid Hasan Al-Banna, ketika beliau mengingatkan para pengikut dakwahnya terhadap makna ayat tersebut beliau berkata “ sesungguhnya rajulul qaul (tukang bicara) itu berbeda dengan rajulul amal (ahli amal), dan rajulul amal berbeda dengan rajulul jihad dan rajulul jihad berbeda dengan rajulul jihad yang produktif dan bijaksana (rijaluddin).
Sesungguhnya kebanyakan orang bisa berbicara, tetapi sedikit sekali diantara mereka yang mampu bertahan ketika harus beramal, dari yang sedikit beramal itu, sedikit saja yang mampu memikul beban jihad yang berat diatas jalan yang terjal ini. Mujahid itu adalah orang orang yang terpilih dan sedikit jumlahnya, oleh karena itu para pendukung dakwah bisa tersesat jalan dan tidak sampai pada tujuan kalau dia tidak menyandarkan diri pada pertolongan Allah.
Al-Quran telah bersikap tegas dan keras kepada orang orang yang pandai memberi nasehat pada manusia, tetapi tidak mau mengambil nasehat. Mereka mencegah manusia tetapi dirinya sendiri terlupakan. Allah berfirman :
“ mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca kitab?maka tidakkah kamu berfikir?(Al-Baqoroh : 44)
Sayyid Quthb dalam tafsir Fii Zhilalil Qur’an dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan “ sesungguhnya bahaya rijaluddin adalah ketika agama telah berubah menjadi profesi. Saat itu agama bukan lagi sebagai aqidah serius yang mampu memotivasi. Namun mereka mengubah kalam Allah dari makna yang semestinya, dan menakwili nash nash yang qath’i (jelas dan pasti) demi memperuntukkan hawa nafsu dan keduniaanya. Mereka memberikan fatwa fatwa dan penakwilan secara zhahiriah namun hakekatnya berbeda dengan hakekat agama, demi memuaskan keinginan dan hawa nafsu orang oaring yang memiliki harta dan kekuasaan, sebagaimana hal itu sering dilakukan oleh para pendeta Yahudi. (Fiqih Dakwah : Jum’ah Amin Abdul Aziz)
Kutipan ini untuk seluruh saudaraku seaqidah Al-Islamiah yang hidup dengan Al-Quran dan Sunnah, dan saya khususkan sedikit pengetahuan ini untuk saudara-saudaraku jamaah tarbiah terlebih lagi untuk harakahku muslim negarawan . Semoga Allah membimbing kita menjadi rajuluddin yang hakiki dengan tetap teguh dalam kondisi suka maupun duka serta tetap sabar, tawadhu, istiqamah, dan tabah dalam kondisi apapun..!Amiin Allahumma Amiin, wallahu a’lam bishawab by RHS

Jumat, 01 Mei 2009

CERITA BARU TENTANG vs KURA KURA DAN KELINCI

Cerita sebelumnya

Suatu hari Kura Kura dan Kelinci berdebat tentang siapa yang lebih
cepat. Mereka menyetujui jalur tertentu untuk bertanding dan mulailah
mereka bertanding

Sang Kelinci melesat dengan cepat dan setelah merasa jauh melampaui Kura
Kura dia berhenti sejenak dibawah pohon untuk beristirahat sebelum
memulai lagi perlombaannya.

Sang Kelinci terduduk dibawah pohon dan akhirnya tertidur.
Dan Kura Kura berhasil melampauinya dan keluar sebagai juara
Sang Kelinci terbangun dan mendapatkan dirinya kalah didalam perlombaan tersebut.

Maksud dari cerita ini adalah :

mereka yang lambat, apabila konsisten, akan dapat memenangkan pertandingan
Itu adalah cerita yang biasa kita dengar sejak masa kecil

CERITA BARU TENTANG vs KURA KURA DAN KELINCI
Baru baru ini seseorang bercerita versi baru yang lebih menarik.

Rupanya ceritanya bersambung ....
Sang Kelinci sangat kecewa dengan kekalahannya lalu melakukan analisis penyebabnya.
Dia sadar bahwa dia kalah karena terlampau percaya diri, kurang hati hati dan terlena
Kalau saja dia bisa lebih waspada maka tidaklah mungkin Kura Kura bisa mengalahkannya.
Lalu ditantangnya lagi Kura Kura tersebut untuk melakukan lomba ulang yang disetujui oleh Kura Kura
Dan kali ini, sang Kelinci menang mutlak karena dia berlari tanpa henti

Maksud dari cerita ini adalah :
Cepat dan konsisten akan mengalahkan yang lambat dan konsisten

Kalau ada dua orang diperusahaan, yang satu lambat, pakai metoda dan
handal sedangkan yang satu lagi cekatan dan handal, maka yang cepat dan
handal akan maju lebih cepat

Lambat asal Konsisten itu bagus akan tetapi lebih bagus lagi kalau Cepat dan Konsisten

Tetapi ceritanya tidak hanya sampai disini.
Kali ini sang Kura Kura mulai berpikir dan sadar bahwa tidaklah mungkin berlomba dengan Kelinci pada jalur seperti yang lalu

Setelah berpikir keras, kali ini Kura Kura menantang sang Kelinci untuk berlomba lagi pada jalur perlombaan yang berbeda

Sang Kelinci setuju.

Mereka mulai berpacu dan sang Kelinci berlari dengan cepat tanpa
berhenti sampai akhirnya terpaksa berhenti ditepi sungai, karena harus
menyeberang

Rupanya garis finish nya terletak beberapa ratus meter setelah tepi diseberang sungai .
Sang Kelinci bingung tidak tahu harus berbuat apa...
dan tak lama kemudian muncul Kura Kura menyusul dan dengan santainya
menyeberang sampai kegaris finish dan memenangkan pertandingan

Maksud cerita ini adalah:
Pertama, temukan kekuatan utama anda kemudian carilah tempat bertanding yang sesuai dengan kekuatan utama anda
Di Perusahaan, kalau anda pandai berbicara, carilah kesempatan untuk
memberikan presentasi sehingga pimpinan anda bisa melihat kemampuan anda

Kalau Kekuatanmu adalah menganalisis, carilah peran yang membutuhkan kemampuan analisis.
Bekerja pada Kekuatanmu bukan hanya menunjukkan kehebatanmu akan tetapi juga menciptakan kesempatan untuk maju dan berkembang

Kalau Kekuatanmu adalah mengorganisir, carilah peran untuk
mengorganisir sesuatu kegiatan penting agar perusahaan tahu bahwa anda
mungkin pantas menjadi manager

Kalau Kekuatanmu adalah waspada dan teliti carilah peran yang
membutuhkan kewaspadaan dan ketelitian seperti peran yang terkait
dengan keselamatan, hukum atau keuangan

Ceritanya belum selesai lho.
Kali ini sang Kelinci dan Kura Kura menjadi bersahabat dan mulai memikirkan solusi masalah bersama sama.
Keduanya sadar bahwa lomba yang terakhir bisa dilakukan dengan jauh lebih baik
Jadi mereka memutuskan untuk melakukan perlombaan lagi , cuma kali ini mereka berlari dalam satu team

Mereka mulai berlari .. mula mula sang Kelinci menggendong Kura Kura
sampai ketepi sungai, kemudian disini Kura Kura yang menggendong Kelinci
untuk menyeberangi sungai

Diseberang satunya Kelinci mulai menggendong Kura Kura lagi sampai kegaris finish.
Sampai digaris finish keduanya merasa puas karena berhasil tiba dengan waktu yang jauh lebih cepat dari lomba sebelumnya

Maksud cerita ini adalah:
Bagus menjadi orang yang brilian dan mempunyai kekuatan utama; akan
tetapi tanpa bisa bekerjasama didalam suatu team dan menjalin masing
masing kekuatan utama, hasilnya tidak akan maksimal karena selalu ada
situasi dimana anda berkinerja kurang sedangkan rekan lainnya lebih
baik.

Kerjasama adalah masalah kepemimpinan yang sesuai dengan situasi, yaitu
dengan memberikan kesempatan kepada seseorang yang memiliki kompetensi
inti yang sesuai dengan situasi mengambil alih kepemimpinan.

Ada lagi yang dapat dipelajari disini ?
Catat bahwa baik Kelinci maupun Kura Kura tidak pernah menyerah setelah mengalami kegagalan.
Bahkan Sang Kelinci bekerja lebih keras setelah kegagalannya
Sedangkan Kura kura mengubah Strategi nya karena dia sudah berusaha sekuat tenaga.
Dalam hidup, kalau kita menghadapi kegagalan, terkadang bisa diatasi dengan bekerja lebih keras dan menambahkan usaha

Kadang akan lebih cocok untuk mengubah Strategi dan melakukan sesuatu yang berbeda.
Dan terkadang lebih cocok melakukan keduanya
Keduanya juga belajar sesuatu pelajaran yang sangat penting..
Kalau kita berhenti berkompetisi dengan saingan kita lalu mulai
berkompetisi dengan situasi, kita akan bisa mendapatkan kinerja yang
jauh lebih baik

Ringkasnya, cerita ini mengajarkan banyak hal pada kita.

Pelajaran yang penting adalah:
-Bahwa cepat dan konsisten akan selalu lebih baik daripada lambat dan konsisten
-Ambilah peran yang sesuai dengan kEKUATAN utama anda
-Kumpulkan kekuatan dan bekerja didalam team akan selalu mengalahkan jagoan individu;
-Jangan pernah menyerah kalau gagal;
-Dan akhirnya, bersainglah melawan situasi, jangan melawan pesaing.

Nah... Sekarang.. Waktunya mengenal siapa Diri anda sendiri ???

TEMUKAN DIRI ANDA SEBENARNYA
DAN MAKSIMALKAN KEKUATAN ANDA

From Surviving to Thriving with DISC Personality Profile




From millis tetangga.

Kamis, 29 Januari 2009

KAPITALISME-LIBERALISME DALAM PANDANGAN ISLAM

KAPITALISME-LIBERALISME DALAM PANDANGAN ISLAM


Perkembangan Kapitalisme-Liberalisme dari Era Klasik-Sekarang
a. 1 Kapitalisme klasik

Kapitalisme dalam sejarahnya adalah sebagai satu bagian dari gerakan individualisme rasionalis (akar dari liberalisme). Di ranah keagamaan gerakan ini telah melahirkan reformasi, salah satunya Reformasi Gereja oleh Marthin Luther pada tahun 1517 yang mempelopori terbentuknya gereja Protestan sebagai perlawanan atas dominasi Paus di Roma. Sedangkan di bidang pendidikan telah memicu timbulnya Renaissance, yang membawa Eropa ke abad pencerahan. Di bidang politik juga telah menampilkan ciri-ciri pemerintahan yang demokratis, dan terutama di bidang ekonomi telah memunculkan system ekonomi kapitalis. Karena itulah maka konsep peradaban kapitalis menjadi legal, sebab di dalam konsep kapitalisme tidak hanya terdapat system ekonomi saja melainkan juga suatu cara pandangan hidup. Dimana system ini mula-mula pertama kali berkembang subur di Inggris pada abad ke-18, lalu menyebar ke Eropa Barat dan Amerika Utara. Dalam system kapitalis hak-hak milik atas alat-alat produksi (tanah, pabrik, mesin dan sumber daya alam), ada di tangan orang perseorangan, bukan di tangan Negara. Tetapi untuk sektor-sektor lainnya tetap menjadi hak monopoli pemerintah.

Disini kapitalisme terdiri dari dua (2) tujuan pokok. Pertama, kepemilikan atas harta produktif berarti kekuasaan terhadap kehidupan orang lain. Dengan kata lain system ini lebih menyukai kekuasaan ekonomi yang di bagi-bagi atas beberapa pemilik harta atau lebih., sehingga bagi penganut ideology ini jika seluruh harta produktif menjadi milik Negara dan segala kekuasaan ekonomi bergabung dengan kekuasaan politik, maka harapan kemerdekaan ekonomi perseorangan akan kabur. Kedua, adanya pola pikir kapitalis yang menganggap bahwa kemajuan di bidang teknologi akan lebih mudah tercapai jika setiap orang mengurus sendiri urusannya dan memiliki dorongan pribadi untuk hal tersebut. Dalam perkembangannya cara berpikir ini menjadi prinsip kedua dalam sistem kapitalis yaitu, ekonomi pasar. Kebalikan dari ekonomi tradisional, dalam ekonomi pasar kapitalis lebih ditekankan kepada spesialisasi pekerjaan. Setiap orang hanya menghasilkan bagian terkecil dari segala keperluannya dengan ketrampilan yang dimilikinya. Dan segala produksi dan jasa itupun untuk kepentingan pasar, yang harganya ditentukan oleh keinginan penguasa politik. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal itu adalah supply and demand (pasokan dan permintaan), apabila harga-harga naik pasar akan memberikan sinyal menguntungkan bagi produk-produk tertentu. Sebaliknya bila harga-harga menurun maka secara implisit pasar seakan memberikan sinyal agar setiap orang mencari peruntungan di tempat lain. Fleksibilitas pasar inilah yang tidak dapat dikendalikan oleh ekonomi totaliter (fasis/komunis), karena peran negara dalam perencanaan perekonomian terbentur oleh “luasnya pengawasan” yang dilakukannya. Karena tak seorangpun dapat menduga perkembangan yang terjadi dalam pasar yang begitu luas dimana setiap hari bermunculan puluhan juta keputusan ekonomi dan meliputi berjuta-juta orang. Oleh sebab itulah sistem ekonomi pasar kapitalis sangat memperhatikan keputusannya, bahkan terhadap daerah yang terpencil sekalipun. Sehingga luasnya jangkauan wilayah dan pengawasan bisa teratasi. Dan sebagai akibatnya ahli-ahli ekonomi sosialispun mengakui double impact dari ekonomi pasar. W. Arthur Lewis, ekonom Inggris (juga seorang sosialis) dalam tesisnya “The principles of economic planning ” (1949) mengungkapkan bahwa yang menjadi persoalannya bukanlah pada perencanan atau tiadanya perencanaan, tetapi diantara perencanaan dengan bimbingan (fasisme dan komunisme) dan perencanaan dengan anjuran (kapitalisme-liberalisme, dalam ekonomi pasar kapitalis). Hal yang pertama telah banyak dibuktikan dengan banyak kegagalan di Uni Sovyet dan China di tahun 50-an dan 60-an.

Meskipun demikian sistem ini juga memiliki cela, karena inti dari sistem ini adalah persaingan. Dalam persaingan ada dua pilihan, (a) monopoli perseorangan , atau (b) Negara yang serba kuasa. Dimana keduanya sama-sama beresiko karena membuat para pelaku ekonomi-pekerja, pengusaha dan penanam modal-harus lebih waspada karena sewaktu-waktu apapun bisa terjadi tanpa bisa di tebak, hanya bedanya antara monopoli oleh perseorangan atau perusahaan-perusahaan besar dengan monopoli oleh negara. Yang sering dilupakan dalam pengerukan keuntungan sebesar-besarnya dari sistem ekonomi pasar kapitalis adalah bahwa hal sebaliknya bisa saja terjadi. Semakin besar keuntungan yang di dapat secara otomatis membawa risiko yang tinggi, sebagai gambaran banyaknya perusahaan-perusahaan besar maupun perseorangan AS yang bangkrut dan gulung tikar akibat efek negatif dari sistem ekonomi kapitalis ini. Sebaliknya bagi mereka yang ingin “bermain aman” lebih memilih menanamkan modalnya pada obligasi-oblogasi dengan hasil yang terjamin dan lebih rendah tentunya.



a. 2 Kapitalisme Modern (Kapitalisme Demokrat)

Teori kapitalisme klasik paling mendekati kenyataan yang sesungguhnya sesuai dengan periodenya, adalah pada pertengahan abad ke-18 hingga kira-kira akhir abad ke-19. Dalam perkembangan selanjutnya di abad ke-20 banyak ketegangan yang dihadapi oleh kapitalisme, diantaranya perkembangan teknologi dalam industrinya sendiri dan di luar itu adalah banyaknya peperangan. Karena itu mau tidak mau sistem kapitalis harus melakukan perubahan yang signifikan. Pemisahan yang jelas antara hak milik, pimpinan dan pengawasan keuangan yang baru mungkin dilakukan setelah terbentuknya perusahaan sebagai badan hukum. Dalam sistem ekonomi kapitalis ini setiap pemegang saham memiliki hak meskipun hanya sebatas besaran saham yang dimilikinya. Yang mana hal ini belum terwujud atau bahkan tidak ada pada masa pra-kapitalis, ketika itu semua anggota secata pribadi memiliki hak secara penuh terhadap jalannya perusahaan. Tetapi di kemudian hari banyak yang mengkritik pengambilan keputusan berdasarkan kepemilikan saham ini, karena dalam sebuah badan hukum yang modern jarak begitu jauh antara badan hokum itu sendiri dengan para pemegang saham. Misalnya, dalam rapat awal tahunan saja para pemegang saham yang diikutkan rapat selalu kurang dari 1%nya. Karena biasanya saham mayoritas dikuasai oleh satu atau dua orang saja, sehingga “hitam-putihnya” perusahaan ada di tangan mereka.

Tetapi dalam perkembangannya muncullah asosiasi-asosiasi buruh / karyawan perusahaan yang dapat mempengaruhi keputusan yan dikeluarkan perusahaan. Bahkan di beberapa Negara seperti Ingggris kaum buruh berhasil membentuk parpol pada tahun 1900 dan secara bertahap berhasil mengambil alih posisi partai Liberal kemudianmenjadi salah satu dari dua partai besar di Inggris, dan dalam satu dasawarsa lebih (1996-sekarang) partai Buruhlah yang menguasai parlemen sehingga otomatis memegang kendali pemerintahan (dua PM terakhir; Tony Blair dan Gordon Brown berasal dari partai buruh). Sedangkan di AS sendiri perkembangan ekonominya mengalami perubahan signifikan pasca “resesi ekonomi” 1929, program New Deal dari presiden FD. Roosevelt telah memberikan udara segar bagi para buruh / karyawan perusahaan. Diantaranya adalah kebijakan menaikkan gaji dan tunjangan buruh selama masa krisis ekonomi untuk menyiasati naiknya harga-harga barang, yang nampaknya kebijakan ini juga ditiru Indonesia selama era presiden SBY.

Dan pada dasarnya di saat sekarang ini tidak ada yang dapat disebut sebagai kapitalis murni di antara negara-negara Barat, bahkan di kebanyakan negara-negara penganut sosialispun tidak ada yang secara murni menrapkan ideologinya. Contohnya saja kita lihat pada saat krisis ekonomi internasional beberapa waktu lalu Negara kapitalis seperti AS sampai-sampai melakukan Bail Out (campur tangan) terhadap perekonomian, yang dimonopoli swasta padahal tindakan seperti itu biasanya ebih sering dilakukan oleh negara-negara sosialis. Hal tersebut telah menunjukkan bahwa sistem dan ideologi kapitalisme telah bertransformasi sedemikian rupa demi mempertahankan eksistensinya.



Pandangan Islam Terhadap Liberalisme-Kapitalisme
b. 1 Struktur Pemerintahan dan Ekonomi

Pada dasarnya di dalam islam tidak ada suatu konsep yang baku tentang system yang mengatur kehidupan manusia, baik itu di sektor pemerintahan maupun ekonomi. Tetapi dalam perjalanan sejarahnya umat Islam dari masa periode Madinah, Khulafaurrasyidin hingga era tiga dinasti besar (Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah) telah memberikan teladan yang baik bagaimana mengatur pemerintahan dan mengatur perekonomian. Malah pada masa Umar bin Khattab dalam rangka mempermudah administrasi pemerintahan wilayah ke-khalifahan dibagi menjadi delapan (8) provinsi, sedangkan untuk pengaturan ekonomi baik dari zakat, kharaj ataupun jizyah semuanya dikumpulkan ke Baitul Maal. Dan di tiap-tiap daerah setiap Gubernur diharuskan mengumpulkan kas daerah (baik dari zakat, kharaj, dan jizyah) dan menggunakannya untuk kepentingan derah masing-masing sesuai prioritas. Pernah dalam catatan sejarah suatu ketika ada salah seorang Gubernur Umar di Bushra (Syam) yang dua tahun lebih tidak mengirimkan setoran ke kas Negara, setelah dilakukan cross check (tabayun) ternyata si Gubernur tadi lama tidak menyetorkan penghasilan daerah ke kas Negara dikarenakan lebih mengutamakan perbaikan ekonomi masyarakat di wilayahnya. Dan contoh-contoh perilaku yang mulia dari para pejabat Negara sebenarnya banyak terjadi dalam era khulafaurrasyidin ini, tak terkecuali khulafaurrasyidin ke IV Ali bin Abi Thalib. Puncak kemakmuran ekonomi dalam era Islam klasik terjadi pada masa Khalifah ke-8 dinasti Umayyah, Umar bin Abdul Aziz (yang masih cicit Umar bin Khattab). Pada masa ini sang Khalifah berhasil melakukan pemerataan hasil perekonomian tentu saja diantaranya adalah pengelolaan zakat, kharaj dan jizyah yang efektif, bahkan saking makmurnya rakyat ketika itu sehingga petugas penyalur zakat dari kekhalifahan tidak menemukan seorangpun dhu’afa di seantero negeri.

Pada era selanjutnya ketika dinasti Abbasiyah berkuasa tepatnya saat Abu’l Ja’far al-Mansyur (755-775 M) duduk di kursi kehalifahan, salah seorang cendekiawan dan ulama muslim ketika itu Abu Yusuf mengarang sebuah kitab yang diberi judul al-Khara. Yang bila dikaji lebih jauh tidak hanya membahas soal kharaj (pajak tanah) saja tetapi juga memberikan saran-saran yang berkenaan dengan masalah perekonomian baik itu makro maupun mikro, dan ternyata dibelakang hari konsep dari buku al-Kharaj karya Abu Yusuf ini dijadikan acuan oleh Adam Smith dalam mengembangkan teori ekonominya, salah satu diantaranya adalah istilah “The Invisible Hands” nya yang selama ini kita pahami sebagai murni teori Adam Smith. Padahal konsep itu di ‘jiplak’ mentah-mentah dari kitab al-Kharaj karangan Abu Yusuf di Abad-8 M, cuma perbedaannya adalah yang dimaksud sebagai The Invisible Hands oleh Adam Smith lebih pada sifat pasar yang fleksibel, sedangkan istilah yang serupa dalam kitab al-Kharaj-nya Abu Yusuf dijelaskan sebagai ‘tangan-tangan Allah’. Fakta inipun baru saya ketahui setelah membaca buku mengenai ekonomi dan per-Bankan Syari’ah, yang seharusnya bisa menjadi solusi dalam pemecahan krisis ekonomi bagi umat Islam sedunia khususnya umat Islam di negeri ini.



2 Pandangan Para Ulama Kontemporer
Sebenarnya sampai kapanpun system dan ideologi Kapitalis-Liberalis seperti halnya ideologi Sosialis-Komunis tidak akan pernah cocok dengan kultur dan aqidah Islam yang Syumul (komprehensif). Beberapa ulama muslim di abad XX diantaranya Sayyid Qutb telah menyatakan pendapatnya “Saya heran dengan terhadap orang-orang yang kelewat semangat dalam ‘memuliakan’ al-Qur’an, orang-orang yang berusaha menambahkan kepadanya sesuatu yang bukan bagiannya, membebaninya dengan sesuatu yang tidak menjadi tujuannya, dan menyimpulkan darinya rincian-rincian ilmu kedokteran, kimia, astronomi, dan sebagainya…”, meskipun disini beliau tidak secara jelas menyebutnya tetapi bisa ditarik pengertian bahwa segala sesuatu yang bertentangan dengan hukum dasar Islam (al-Qur’an dan Hadits) maka untuk selamanya tidak bisa digunakan oleh umat Islam.

Meskipun demikian dalam realitas kehidupan berbangsa dan bernegara penolakan Islam terhadap ideology Liberalis-Kapitalis masih menjadi polemik, beberapa hal diantaranya adalah fatwa haram terhadap bunga Bank yang menimbulkan pro-kontra, belum lagi sistem demokrasi dan pemilu yang diantara umat Islam sendiri masih ada tarik ulur antara pendapat ‘Islam Yes, Partai Islam Yes!’ atau ‘Islam Yes, Partai Islam No!’. Bahkan sistem ekonomi Islam sendiri ternyata masih banyak saudara-saudara kita yang kurang setuju. Pernah saya browsing di internet lihat-lihat situs dari harokah lain yang secara halus menyindir harokah tertentu yang menerapkan ekonomi Islam dan terjun dalam politik praktis, mereka berpendapat jika ada Bank Islam dan Partai Islam maka suatu ketika pula akan muncul Beer Islam dan Diskotic islam.



Kesimpulan

Dari uraian di atas walaupun cukup singkat setidaknya bisa kita ambil beberapa kesimpulan, bahwasanya system Kapitalis-Liberalis yang sampai saat ini masih eksis dalam perkembangan segala aspek kehidupan dunia ternyata juga masih menghinggapi benak saudara-saudara kita sendiri sesama muslim. Dan ternyata kita sendiripun nampaknya masih gamang untuk sekedar berteriak lantang, untuk mengatakan betapa sistem dan ideologi Kapitalis-Liberalis sebenarnya sudah terlalu usang kalau tidak mau dikatakan primitif dan ketinggalan jaman. Tapi kelihatannya paradigma berpikir kebanyakan orang masih sukar diubah, atau bisa jadi kita justeru masih ragu untuk meninggalkan ideologi yang sudah usang itu untuk menjadi muslim yang kaffah.

Akhirnya saya dalam tulisan yang singkat ini hanya mampu memberikan sedikit masukan, bahwa kita perlu merintis sebuah langkah nyata untuk menggantikan ideologi Kapitalis-Liberalis yang sudah berurat-berakar di Negara Indonesia ini. Memasyarakatkan ekonomi Syari’ah dan menunjukkan perilaku politik yang baik sebagai aktivis politik muslim adalah beberapa diantaranya. Hanya diskusi dan berwacana saja tidak akan menyelesaikan masalah, tanpa adanya suatu langkah yang nyata dan efisien.


by : Fibri Santosa

Kamis, 22 Januari 2009

Refleksi Akhir Tahun

Refleksi Akhir Tahun
( Sebuah Autokritik KAMDA Jember bidang Kajian Strategis )
ADVOKASI SOLUTIF MENUJU MASYARAKAT MADANI 2009
Tulisan ini dibuat untuk menjawab berbagai pertanyaan di kalangan kader mulai dari Pejabat Kamda sampai Komisariat hingga kader non kepengurusan. Yaitu mengenai fokus kerja bidang Kajian Strategis KAMMI daerah Jember ’07-‘09. Sebagai sebuah tanggung jawab moral bagi saya sebagai pelaku lama di kastrat KAMDA Jember saat ini.
“Sesungguhnya setiap masa memiliki karakteristik. Ketika sebuah karakteristik yang tepat dilakukan pada suatu masa tertentu, hal ini belum tentu tepat jika dilakukan pada masa yang lain. Karena itu sungguhlah hebat mereka generasi pelopor walaupun generasi setelahnya adalah lebih baik karena setiap kekurangan yang ada pada masa sebelumnya akan terjawab pada masanya, begitupun seterusnya.”
Pada evaluasi kepengurusan Akhuna Khoirul Anam S. Sos ’03-’05 dimana Akhuna Rama Anggara,S. E & Deni Rahman,S. S sebagai tim kastrat ketika itu, mereka membawa kamda Jember pada tataran advokasi terhadap kebijakan-kebijakan kampus, daerah, dan nasional. Hal ini tampak pada seringkalinya artikulasi ‘Aksi Turun Jalan’ menjadi karakteristiknya. Artinya pada masa itu kader langsung diarahkan melakukan kerja-kerja lapang tanpa mempertimbangkan kesiapan kader terhadap pendidikan politik secara intensif, namun pendidikan yang dimainkan adalah pendidikan konstruktivistik dengan mengajak mereka pada penyikapan secara konkret. Di satu sisi pola ini baik namun kekurangannya adalah style ini tampak reaksioner dan lemah dalam analisa.
Sehingga pada kepengurusan Akhuna Topo Harmoko S.S ’05-’07 dengan saya& Ukhti Wahyu Nurdiasih,S. Sos sebagai tim kastratnya ketika itu menggunakan pola kerja dengan memberikan artikulasi ‘Spesialisasi Isu Komisariat’ dalam upaya pendampingan pembinaan kader dalam berpolitik dengan mengkaji dan mengadvokasi terhadap isi-isu strategis yang telah disepakati di tiap komisariat. Harapannya isu yang terspesialisasi di tiap komisariat ini akan menjadi karakteristik gerak komisariat untuk dapat dibumikan dalam agenda-agenda penyikapan selanjutnya. Selain itu juga dengan adanya karakteristik komisariat ini maka penajaman isu akan lebih mudah dilakukan sehingga dengan menjadi karakteristik artinya proses pengawalan isu ini tidak reaksioner dan justru sebaliknya. Ini dilakukan untuk menjawab kekurangan pada kepengurusan sebelumnya. Kalau sedikit mereview bahwa ternyata pola kerja ini juga ada kekurangannya. Isu-isu yang telah terspesialisasi di tiap komisariat tidak berjalan dengan baik dengan evaluasi masa itu kader komisariat merasa terbebani dengan pola ini, komisariat merasa kebingungan dalam menggarap isu tersebut. Sehingga melihat hal ini maka kastrat kamda pada masa itu mengambil ranah kerja komisariat seperti pada penyikapan isu kampus yang seharusnya menjadi wilayah kerja komisariat. Pun akhirnya dengan kondisi ini kerja-kerja advokasi kamda juga terbelengkalai, isu-isu kedaerahan tidak tergarap dengan optimal.
Dalam pandangan saya, ini dikarenakan lemahnya pendidikan politik kader. Ketidaksiapan kader untuk diterjunkan ke ranah politik. Evaluasi kedaerahan sebagian besar kader Jember baik dari tataran kampus hingga daerah memang masih dalam pola pikir linier. Artinya segala manifestasi lebih ditekankan pada rekrutment.
Akhirnya pada kepengurusan Akhuna Amanda Primadeswara A. Md dengan visi besarnya ketika MUSDA Desember 2007 ‘Menuju Masyarakat Madani 2009’ maka tim kastrat yang terdiri dari saya sebagai pelaku lama, Ukhti Lalitya Apcelia, Rahayu Hamzah, dan Akhi Awali Imron sebagai ketua Departemennya mencoba menawarkan artikulasi baru yaitu ‘Advokasi Solutif menuju Masyarakat Madani 2009’. Makna Advokasi Solutif dalam hal ini adalah mahasiswa bukan masanya lagi menuntut pemerintah untuk memenuhi apa yang kita&rakyat inginkan, namun sudah saatnya kita berkontribusi memberi solusi atas permasalahan negeri ini. Itulah paradigma Muslim Negarawan, ia tidak menjadi beban Negara namun justru menjadi perekat komponen bangsa dan problem solver terhadap Qodhoyatul Ummah yang melanda negeri ini.
Dalam menjawab kekurangan pada masa kepengurusan sebelumnya maka untuk tahun pertama kepengurusan Akhuna Amanda Primadeswara,A. Md lebih bermain kearah reformasi pembinaan tarbawi kader yakni dengan mengaktifkan Madrasah KAMMI Klasikal I dan 2 sebagai pola pencerdasan kafaah keislaman dan politik kader. Titik tekan kami dalam memberikan pendidikan politik intensif kader yaitu pada Sekolah Peradaban Madrasah Klasikal II. Harapannya seiring dengan berjalannya kurikulum ini hingga akhir 2008 maka berakhir pula pembinaan dan konsolidasi internal. Dan untuk satu tahun berikutnya kita akan memasuki fase marketing.
Seiring kader memasuki fase pembinaan intensif di SP MK Klasikal 2 pada tahun pertama kepengurusan ini kami melakukan upaya pendekatan misi ke instansi pemerintah/non pemerintah baik formal maupun informal. Ini kami jadikan batu loncatan awal dengan membangun kepercayaan tersendiri sebelum kami meluncurkan manuver-manuver advokasi yang sebenarnya ke pemerintah pada tahun kedua kepengurusan nanti. Alhamdulillah evaluasi untuk style yang kami mainkan hingga saat ini kami berhasil membangun kepercayaan dengan pihak Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Jember dengan kontribusi Pilgub ketika itu, Dewan Harian Cabang (DHC ’45) dengan mengadakan Diskusi Panel ‘Menengok Muslim Negarawan Masa Lampau, Menampik Dikotomi antara Pendidikan Agama&Umum’, Dinas Pendidikan dengan mengadakan Seminar Pendidikan untuk sertifikasi guru-guru ‘To Be Religius&Profesional Teacher, DPRD komisi A dengan mendukung pengesahan RUU Pornografi/aksi, Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai keyinforman untuk beberapa data-data kedaerahan yang kita butuhkan, BAPEDA, dan beberapa tokoh wanita partai walaupun pola hubungan yang dibentuk baru sebatas pola hubungan informal.
Pada tahun kedua nanti kita akan merealisasikan kamda Jember sebagai ‘Central of Education’ dengan konsep Advokasi Solutif kami, selain penyikapan pesta demokrasi pada Pemilu 9 April 2009 besok. Ini yang akan menjadi program unggulan kami selain program-program pendukung lainnya. Badan Khusus Muslimah (BKM) yang sudah mulai merangkak maju dan lainnya.
Dan harapannya sebentar lagi sebagai moment menyambut Milad KAMMI ke-11 dan Pesta Demokrasi General Election 2009, kami akan meluncurkan marketing selanjutnya dengan mengundang parpol-parpol Islam (PKS, PBB, dan PPP) dalam Diskusi Kebangsaan “Politik Islam ditengah Konstelasi Politik Sekuler” selain artikulasi klasik Vooter Education, Aksi Say No Golput dengan formasi gebrakan Door to Door (Direct Seling) ke masyarakat daerah Sumbersari. Dan tidak kalah ekspresi Badan Khusus Kemuslimahan (BKM) Kastrat Kamda Jember juga akan meluncurkan seminar menyambut International Womens Day dalam tema “Wanita dan Parlemen”.
Dengan formulasi ini kami mengharap ke depan KAMDA Jember akan lebih baik lagi sebagai wujud integritas Muslim Negarawan yang menjadi mindset berpikir saya. Di satu sisi pembinaan dan konsolidasi internal selesai dengan penerjunan secara fungsional kader AB3 dalam merumuskan dan membumikan kurikulum pelaksanaan Madrasah KAMMI 2 Klasikal dan penerjunan kader AB2 dalam konsep pembinaan MK I Klasikal selain upaya pendampingan secara structural setiap bidang antara KAMDA dan Komisariat. Dan di sisi lain, pendekatan misi sudah kami bentuk dengan lembaga pemerintah/non pemerintah dan tinggal tindak lanjut dengan akan diluncurkannya artikulasi kami dengan mengerahkan kader-kader unggulan hasil cetakan pembinaan siyasah syar’iyah MK Khos dan Klasikal 1 dan 2 dalam advokasi solutif seperti yang kami jelaskan di atas.
Artinya hal inilah yang bisa saya sampaikan mengenai alasan kami yang seolah menenggelamkan jati diri kastrat pada advokasi pada tahun pertama kepengurusan kemarin. Saya pikir ini menjadi sebuah wujud paradigma berpikir objektif dan matang membaca kompetensi dan realita medan dakwah yang sebenarnya untuk masa depan yang lebih baik lagi. Allohua’lam.
Sesungguhnya kehebatan itu adalah milik generasi pelopor, walaupun generasi setelah itu adalah lebih baik. Saat matahari terbenam, KAMMI tidak pernah terbenam. Pemimpin datang dan pergi, KAMMI tetap tegar berdiri. Selalu ada kader terbaik yang siap melanjutkan estafet kepemimpinan di KAMMI. Yang pasti, KAMMI telah menjadi rumah bagi kita semua, baik buruknya tetap rumah kita, dan tentu kita akan selalu mengenangnya dengan nyanyian ‘lebih baik di sini, rumah kita sendiri...’
Saya menjalani dua kali Ramadhan di kastrat KAMDA dengan beberapa bulan sebelumnya pernah menjadi ketua departemen akibat terjebak dalam masa transisi ketiadaan the best person pada masa itu dan itu semua sudah sangat cukup menempa diri saya melanjutkan perjalanan untuk KAMMI tercinta berikutnya. Bahwa loyalitas di KAMMI dan hasrat kepemudaan kita yang tak kan pernah padam telah kita semai dalam aktivisme di KAMMI. Banyak lompatan yang kita lakukan meski banyak perhentian yang getir ataupun menyenangkan, dalam lelah atau puas bahwasanya kader Muslim Negarawan haruslah tersemai mulai dari diri kita yang harus kita wujudkan. Muslim yang baik adalah mereka yang memikirkan masa depannya mulai saat ini, yang mampu membuat roadmap yang idealis, realistis dengan segenap targetan-targetan yang harus dicapainya. Perenungan terbaik, rekreasi terbaik adalah dengan terus berkarya dan memberi manfaat. Bravo KAMMI !!!
Demi KAMMI Tercinta,

Arifah Yusti Kencana
Staf Dept. Kastrat KAMDA Jember


Blogspot Templates by Isnaini Dot Com and Home Design. Powered by Blogger